28 Juli 2019

Batavia Cafe: Tempat Nongkrong Paling Legendaris di Kota Tua


Setelah diklat Samapta kemarin keluarga saya datang ke penutupannya dan menghabiskan akhir pekan bersama saya di Jakarta. Kesempatan ini saya gunakan untuk jalan - jalan ke tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya, salah satunya di kota tua. Perjalanan di kota tua menggunakan Trans Jakarta merupakan pengalaman pertama bagi mereka, setelah sampai disana kami pun bersepeda dan melepas penat di kafe paling terkenal disana, Batavia Cafe. Lokasinya yang sangat strategis serta memiliki sejarah yang menarik menjadikan kafe ini menjadi jujukan wisatawan baik turis lokal maupun turis asing. Nuansa klasik sangat terasa di kafe yang satu ini. Lantai 1 merupakan area smooking dan lantai 2 merupakan area non smooking sehingga keluarga kami memilih di lantai 2. Waktu yang diberikan untuk makan disini adalah 90 menit saja sehingga tidak bisa berlama - lama bercengkrama disini.


















Makanan dan minuman yang ditawarkan pun gabungan dari tradisional Indonesia dan makanan khas turis asing dari negara - negara barat. Harga yang ditawarkan pun cukup mahal untuk ukuran makanan Indonesia seperti nasi bebek dipatok dengan harga 128 ribu sebelum pajak, harga rata - rata untuk makanan berat di atas 100 ribu. Saya dan keluarga memilih untuk makan ringan saja disini yaitu pencake seharga 78 ribu dan memesan beberapa minuman dengan harga berkisasr 50 ribuan yaitu . Rasa pencake nya memang enak, lembut di mulut dan legit. Pelayan - pelayan yang ada disini menggunakan pakaian tradisional Indonesia. Lantai 1 suasana nya lebih seperti bar yang ada panggung untuk live music juga. Pemandangan dari Batavia Cafe ini menyuguhkan gedung museum fatahillah yang menjadi landmark kota tua Jakarta. Dalam kafe nya pun banyak pajangan - pajangan masa lampau yang cocok untuk melihat sejarah.
Read more!

Roti John: Makanan Ala Hotdog Nikmat dengan Harga Terjangkau


Liburan saya di Surabaya lebaran kemarin saya sempatkan juga untuk mencoba kuliner yang sudah lama saya rencanakan tetapi tidak kesampaian sampai kemarin. Padahal makanan ini sudah buka cabang dimana - mana, entah itu cabang resmi atau bukan saya tidak tahu, yang pasti saya pingin coba yang asli nya gimana. Nama makanan ini adalah roti John yang lokasinya ada di area Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya, dekat dengan Sutos. Konsep nya adalah jualan kaki lima tapi di halaman parkiran kolam renang Kodam Brawijaya, jadi ada tenda - tenda nya juga dan sudah memakai sistem kasir sehingga antriannya rapi. Saat saya datang suasana tidak begitu ramai sehingga pesanan saya langsung dibuatkan. Saya memesan roti John panjang seharga 27 ribu sudah bonus es jeruk dari warung sebelah, mantap kan.








Ada beberapa variasi menu yang ada disini, mulai dari roti john normal ada yang panjang dan pendek, ada yang ditambahkan berbagai macam topping sehingga namanya juga ikut berubah seperti monster john, john venom, yaki nori john dan lain sebagainya. Harganya pun tidak terlalu mahal, paling komplit seharga 36 ribu saja. Setelah pesanan saya datang saya pun langsung mencicipi pesanan saya. Menurut saya, makanan yang mengandung roti komponen yang paling penting adalah rotinya, kalau roti nya enak maka topping nya pun juga ikut enak, kalau roti nya tidak enak maka makanan itu juga menjadi tidak enak. Nah, keunggulan roti John ini adalah rotinya sangat empuk dan menyatu dengan topping sehingga menurut saya sangat nikmat. Perpaduan telur sosis daging serta sayuran menjadi satu dan cocok dengan lidah saya. Tempat makan ini hanya buka di malam hari saja sehingga jangan datang pagi sampai sore ya nanti tidak ketemu tempatnya.
Read more!

Coban Talun: Foto - Foto Gaya Eropa hingga Hindia Lengkap Disini


Batu sebagai kota wisata tidak habis - habis menawarkan tempat wisata baru setiap tahunnya. Saya juga sudah lama sekali tidak jalan - jalan ke Batu karena sudah tinggal di luar pulau. Saat saya masih SMA dulu, wisata coban atau dalam bahasa Indonesia berarti air terjun, hanya menawarkan pemandangan air terjun saja. Hal ini berbeda sekali dengan kondisi saat ini dimana area sekitar tempat parkir air terjun yang selalu sangat luas digunakan untuk wisata - wisata buatan yang menyuguhkan pemandangan alam yang indah pula. Tahun lalu saya sudah mengunjungi coban rais yang saat ini sudah canggih menyuguhkan wisata foto - foto lengkap dengan fotografer nya, nah tahun ini saya mengunjungi coban talun yang juga berada di Batu. Coban Talun berada di jalan menuju ke Cangar setelah melewati Selecta, pakai google maps sudah menunjukkan lokasi yang benar atau pantau terus saja petunjuk jalan sepanjang arah ke Cangar.










Konsep wisata Coban Talun ini sebenarnya mirip dengan yang ada di Coban Rais, tetapi lebih professional Coban Rais karena sudah teratur dan ada fotografernya juga, kalau disini kita ya foto - foto sendiri dan setiap tema ada loketnya masing - masing. Harga masuk ke kawasan coban rais sendiri adalah 10 ribu rupiah. Ada beberapa spot yang menjadi favorit pengunjung, yang pertama adalah pagupon camp, disini kita bisa foto - foto di depan kamar - kamar penginapan yang bentuknya segitiga dan ada juga yang bentuknya melingkar seperti pagupon burung. Setelah itu ada juga spot yang sepertinya paling terkenal yaitu apache camp dimana kita seperti berada di perkampungan suku indian. Pengunjung bisa menyewa penutup kepala ala suku indian ataupun baju ala suku indian dengan biaya cukup terjangkau, 10 ribu rupiah saja masing - masing jenis. Spot ini juga dilengkapi tempat nongkrong untuk minum dan makan camilan sekaligus tempat penyewaan pakaian tadi. Kalau kita jalan ke atas lagi ada spot bunga dan spot untuk outbound tetapi saya tidak masuk kesana karena merasa sudah cukup di dua spot awal tadi. Saat itu kondisi sedang sepi karena bulan Ramadhan, emang paling enak jalan - jalan saat Ramadhan karena pasti sepi.
Read more!

Srengenge Wetan: Restoran Berkualitas yang Menyajikan Menu Khas Banyuwangi


Jalan - jalan ke Banyuwangi tidak lengkap rasanya jika tidak sekalian berwisata kuliner. Sebenarnya masing - masing kuliner memiliki warung yang terkenal nya masing - masing, nah jika kamu hanya punya sedikit waktu dan ingin mencicipi sekaligus semua kuliner khas Banyuwangi di satu tempat makan saja dengan rasa yang sudah enak, ada sebuah restoran yang sanggup menyuguhkannya. Namanya adalah Srengenge Wetan yang terletak di jalan Panglima Besar Sudirman nomor 175, tepat di tengah kota tidak jauh dari alun - alun dan Masjid Agung Banyuwangi. Restoran ini bernuansa kayu - kayu modern dan dilengkapi juga dengan toko oleh - oleh sehingga menghemat waktu wisatawan untuk berwisata kuliner sekaligus membeli oleh - oleh.












Dua makanan khas Banyuwangi yang wajib dicoba adalah rujak soto dan nasi tempong juga tersedia disini. Rujak soto menawarkan rasa gurih dan sedap perpaduan antara sayur rujak dan kuah soto yang pas akan memanjakan lidah anda. Nasi tempong mirip dengan lalapan atau penyetan jika di Surabaya Malang, tetapi dilengkapi dengan sambal  yang mantap dan sayuran serta lauk yang beragam. Ada juga nasi bakar yang siap membuat lidah bergoyang. Makanan camilan tradisional pun juga ada disini seperti kue cenil, cucur, dan sejenis bubur madura dari rasanya. Ada juga minuman secang yang menghangatkan tenggorokan. Rasa makanan dan minuman disini menurut saya sangat nikmat dan terjamin kualitasnya karena sudah sekelas restoran. Selain makanan tradisional, aneka olahan kopi pun tersedia disini karena ada juga coffee shop di lantai 2 yang menyuguhkan para pecinta kopi.
Read more!

Djawatan: The Hobbit Van East Java


Banyuwangi saat ini memiliki banyak sekali tempat wisata, terutama wisata alam. Nah, saat perjalanan pulang ke Jember dari Banyuwangi, ada sebuah tempat wisata yang bisa disinggahi karena berada di jalur yang sama dengan arah ke Jember meskipun agak menjauhi sedikit. Nama tempat ini adalah Djawatan yang terletak di pusat kecamatan Benculuk, Banyuwangi. Kalau dilihat dari foto - foto saya kira lokasi tempat ini ada jauh dari pemukiman seperti wisata - wisata alam pada umumnya, ternyata saat mobil kami sampai di pusat keramaian kecamatan Benculuk, ada sebuah gang dan disitulah pintu masuk Djawatan ini. Pengelola dari tempat wisata ini sepertinya kerjasama antara warga sekitar dengan pengelola lahan entah perhutani entah siapa saya kurang paham. Ternyata wisata Djawatan ini sudah sangat terkenal, terbukti saat saya datang kesana sore - sore, pengunjungnya sangat ramai, parkiran mobil sampai penuh.





Banyak sekali rombongan wisata baik keluarga maupun perkawanan yang ramai - ramai datang kesini. Area nya lumayan luas dan sudah dilengkapi dengan beberapa permainan semi outbound. Banyak juga keluarga yang piknik kesini karena udara disini cukup segar ditutupi oleh rindangnya pepohonan. Warung - warung juga banyak yang buka di pinggiran area wisata. Djawatan ini menyuguhkan pepohonan besar dalam jumlah yang banyak dimana pepohonan tersebut memiliki daun atau sejenisnya yang menjuntai - juntai sehingga mirip yang ada di film the Hobbit dan mengesankan suasana di dalam hutan yang misterius. Saat saya melihat area sekitar ternyata tempat ini ya mungkin sebelum jadi tempat wisata adalah ladang pepohonan biasa yang sampingnya ada sawah dan dilewati sehari - hari oleh penduduk sekitar tetapi karena bagus untuk difoto, jadilah tempat ini terkenal di media sosial. Saya sarankan kalau kesini jangan saat libur umum karena sangat ramai sehingga fotonya akan bocor dimana - mana, karena foto disini kalau mau bagus ya jangan bocor. Banyak juga yang menjadikan Djawatan ini sebagai lokasi pre wedding.
Read more!
badge