23 Maret 2013

Kereta Api dan Kebahagiaan

Ada apa dengan kereta api ?

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, seorang balita dibonceng ibunya dengan sepeda motor menuju ke stasiun Pasuruan. Setelah sampai, dituntunnya anak itu ke dalam stasiun. Seorang bapak - bapak sedang berjaga di stasiun. Seperti biasa, bapak itu menyapa si ibu yang baru saja masuk ke dalam stasiun. Ibu dan anak itu lalu duduk di kursi peron untuk menunggu kereta lewat. Setelah beberapa lama, kereta pun lewat. Si anak terlihat senang melihat kereta yang lewat itu. Setelah kereta menghilang dari pandangan, ibu dan anak itu pun pamit pulang kepada bapak - bapak yang berjaga di stasiun itu. Hampir setiap hari selama bertahun - tahun ketika si anak belum bersekolah, dia dan ibunya pergi ke stasiun untuk sekedar melihat kereta yang lewat. Oleh sebab itu si bapak - bapak penjaga stasiun tadi sampai hafal kepada si ibu dan anak tersebut. siapa balita itu ? dialah yang sedang menulis artikel ini.

Sampai sekarang, bapak penjaga stasiun yang sekarang sudah menjadi kepala stasiun itu pun masih ingat kepada saya. Beberapa hari yang lalu si bapak bertemu dengan mama saya
"buk, anaknya yang dulu tiap hari ke stasiun itu sekarang dimana ?"
"ooh, dia di Surabaya pak, kuliah"
Bahkan saat beliau sudah menjadi kepala stasiun pun masih ingat kepada balita itu.


Entah mengapa saya suka banget sama kereta api. Setelah bersekolah pun, saya masih menyempatkan diri untuk pergi ke stasiun untuk hanya sekedar melihat kereta yang lewat. Saat lebaran setiap tahun saya pasti ke Jember, tempat nenek saya sekaligus tempat kelahiran saya. Saat saya masih kecil, saya selalu naik kereta untuk pergi ke Jember. Saya masih ingat betul bagaimana saya naik kereta pada saat itu, masih terbayang di benak saya. Dulu saat kereta akan datang, saya dan orang - orang yang akan naik kereta pasti akan berdiri di samping rel, tegang sekali waktu itu, seperti akan maju ke panggung saja.

Suatu saat tiket kereta habis saat akan pulang ke Pasuruan dari Jember, saya lupa umur berapa itu. orang tua saya memutuskan untuk naik bus saja. Tetapi saya tidak mau, saya merengek minta naik kereta. Tetapi karena orang tua saya tidak kehabisan akal, saya dibawa ke stasiun dekat terminal, lalu ditunjukkan bahwa tidak ada kereta. Tetapi tetap saja saya merengek. Apa boleh buat, saya naik bus dengan tangisan, toh nanti capek - capek sendiri. Waktu itu saya juga senang banget membeli mainan kereta, lengkap bersama rel nya.

Sekarang balita itu sudah beranjak dewasa. Tidak ada lagi cerita merengek gara - gara tidak jadi naik kereta. Tetapi saya masih cinta sama kendaraan yang satu ini. Kemanapun saya pergi saya sempatkan untuk naik kereta. Saya pernah naik kereta jarak dekat yang setiap stasiun berhenti, yang isinya orang membawa parit dan hewan ternak, sampai kereta nomor 1 di Indonesia, argo bromo anggrek. Setiap ada kereta lewat di persimpangan jalan, entah mengapa saya senang melihatnya. Mungkin itu yang dirasakan oleh orang yang juga suka kereta api. Dari lahir dan sampai kapanpun, sepertinya kereta tetap akan selalu ada dalam benak saya.

2 komentar:

badge