11 Maret 2013

Pulau Sempu : Hidden Paradise di Malang Selatan (2)


Ternyata perkiraan saya tentang pulau ini salah BESAR. "Ini terjadi ketika musim hujan, saya belum pernah ketika musim kemarau". Saya kira jalannya itu tidak buruk - buruk amat, hanya berlumpur dan datar - datar saja. Lalu jaraknya hanya jauh BIASA. Ternyata kami melewati tanah full dengan lumpur basah, lalu bidangnya miring sekitar 45 derajat, sehingga untuk jalan saja kami harus bertumpu pada akar - akar pohon dan pegangan pada dahan yang kuat. Tetapi tidak SEMUDAH yang dibayangkan. Kami berkali - kali terpeleset, jatuh, terjerembab lumpur, dan sejenisnya. Banyak jalan yang tidak ada akarnya, sehingga kami harus berhati - hati dan pintar - pintar melangkah. Dan saya baru sadar bahwa memakai sandal gunung disini adalah SALAH BESAR. Untung saja sandal saya kuat, sehingga tidak putus, sebagian besar sandal gunung putus saat disini. Jadi SANGAT saya sarankan pinjam saya sepatu khusus p. sempu yang disewakan disana, cuma 10 ribu kok.



Bayangkan saja, tiap melangkah sandal saya tertekan kaki saya yang licin menekan bagian pinggir sandal dengan kuat, tidak ada jalan biasa disini, semua dilalui dengan keringat dan perjuangan. Semua jalan licin. Saya jadi berpikir, terutama untuk orang - orang yang tidak pernah ke tempat seperti ini. Seburuk apapun kondisi perjalanan di pulau sempu yang anda bayangkan ketika anda membaca artikel atau mendapat cerita dari orang lain, ini JAUH lebih buruk, kita tidak lagi berpikir kotor atau tidak, tetapi berpikir apakah ketika pulang tubuh saya baik - baik saja atau tidak.



Saat tubuh saya sudah lelah sekali, saya pikir kita sudah dekat, ternyata kita masih jauh, ohmeen, tidak pernah terbayangkan sejauh dan segila ini. Untung saja kami memakai pemandu, benar - benar buta arah dan hutan lebat. Saya sempat putus asa dan melepas sepatu di tengah perjalanan, karena saat berpapasan dengan orang yang juga di p.sempu, mereka yang memakai sepatu gunung kebanyakan melepas sepatu, namun saat saya rasakan beberapa langkah kaki saya tertusuk - tusuk, terpaksa memakai sepatu yang licin dan sangat rentan putus ini. Saat pemandu memberi tahu bahwa segara anakan sudah dekat, saya membayangkan jalan yang lebih enak, karena sudah dekat pantai. Ternyata jalannya lebih menantang lagi, hmmm.



Jika saya bisa menggambarkan, kita harus melewati tanah miring yang langsung berbatasan dengan laut, sehingga kita bisa saja terjun dari sini, karena tanahnya miring dan langsung berbatasan dengan jurang laut, kita harus benar - benar hati - hati dan bertumpu pada akar - akar pohon yang ada disana. Ini bukan tempat wisata biasa, tidak ada asuransi disini, ini memang benar - benar alam liar. Saya tidak pernah membayangkan bakal melewati tebing dan hanya berpijak di akar pohon berlumpur tanpa pengaman. Dan akhirnya kami pun sampai, yeee.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

badge