11 Maret 2013

Pulau Sempu : Hidden Paradise di Malang Selatan (3)


Setelah sampai, kami langsung mencari spot buat basecamp, mencari tempat yang teduh. Setelah itu kami memcuci sepatu kami yang telah penuh dengan lumpur. Setelah mencuci - cuci, kami mulai melakukan sesi foto, dan nyebur ke danau ini. Yang sangat menarik dari segara anakan adalah ini adalah sebuah danau air asin yang ada di samping lautan lepas. Yang membuat segara anakan menjadi sebuah danau adalah antara segara anakan dan lautan lepas dibatasi oleh tebing tinggi. Air laut masuk ke segara anakan lewat sebuah lubang yang bisa dikatakan sebagai pemecah ombak, sehingga air hanya mengalir halus memasuki segara anakan. Banyak rombongan yang melakukan kemah disini.


Sebenarnya rugi juga kami tidak kemah disini, karena dibandingkan perjalanan yang ternyata begitu berat. Setelah puas berfoto - foto di segara anakan, kami beristirahat di tempat yang teduh tadi sembari menjemur pakaian maupun sepatu yang sudah "dicuci" dengan air laut. Perlu diketahui, saat di tengah - tengah perjalanan, hujan mengguyur pulau sempu, tetapi saat sampai disini, cuaca sangat terik. Setelah beristirahat, kami pergi ke tebing untuk berfoto - foto dengan background samudra Hindia, keren banget pemandangannya. Ombaknya keras banget nabrak pinggiran tebing, gak kebayang kalau jatuh ke situ. Karena hari sudah siang, kami memutuskan untuk balik.


Saya kira kita sampai di sendangbiru tidak terlalu sore, karena ketika kami kembali matahari masih terik di atas. Perjalanan pun dimulai, saya memasang sandal saya erat - erat agar lebih nyaman daripada saat berangkat. Saya kira perjalanan bakal lebih cepat dan mudah, karena hujan sudah reda. Ternyata saya SALAH lagi. Kami merasa sudah berjalan begitu jauh, tetapi pemandu bilang bahwa ini belum setengah dari perjalanan, MEEEN. Ditambah kaki saya yang sakit karena terbentur karang saat berangkat tadi, saya berjalan dengan tidak semangat. Entah mengapa jalan yang kami lewati begitu jelek, kami butuh perjuangan lebih untuk melewatinya. Saat di segara anakan kami bertemu dengan rombongan keluarga yang ada ibu paruh baya dengan umur sekitar 50 atau 60.


Saya membayangkan " masa sih saya yang masih muda lewat jalan seperti ini seperti mau pingsan saja, tetapi ada orang tua yang sanggup", saya masih heran, karena orang tua itu penampilannya bukan seperti orang tua yang suka travelling penuh adrenalin seperti ini. Di tengah - tengah perjalanan pun kami disalip oleh rombongan lain yang kemudian tidak kelihatan lagi karena jauh. Saya jadi merasa jalan yang rombongan kami lewati adalah jalur yang berat, karena setiap pemandu punya jalur sendiri - sendiri. Bayangkan saja, saya hampir emosi karena sudah sandal berkali - kali lepas perekatnya (untung tidak putus), jalannya miring dan kita harus berjalan lurus, sehingga terpeleset terus, jauh pula. Saya harus berkali - kali dibantu uluran tangan karena sandal saya tidak memungkinkan untuk melewati daerah situ. Sudah sangat capek dan dehidrasi, ternyata masih kurang 1/4 perjalanan lagi.


Saat tiba di pantai pun, kami bertemu dengan rombongan orang tua dan keluarganya tadi yang saat kami berangkat mereka masih bersantai di segara anakan. Padahal rombongan mereka lebih banyak, masa kami selemah ini, saya yakin jalur mereka lebih ringan dari jalur kami. Saat sampai di sendang biru, jam sudah hampir pukul 6 sore, sudah gelap. Saat menunggu antrian mandi, saya jadi terpikir dengan perasaan takut " badan saya pegal semua, kaki saya juga sakit plus pegal - pegal sekali, bagaimana saya bisa menyetir mobil manual, jangankan untuk ke Surabaya, perjalanan ke Malang pun saya sudah was - was membayangkan, jalannya meliuk - liuk naik turun, sangat sepi dan gelap, badan saya sudah tidak fit pula".


Setelah mandi dan makan, dengan banyak mengucap bismillahirrohmanirrohim, kami berangkat menuju malang pukul 19.30. Karena cewek - cewek pasti lebih lelah dari cowok - cowok, akhirnya yang tidak tidur selama perjalanan adalah Adi. Jalanan begitu gelap, tidak ada lampu jalan, hanya ada mobil saya di jalan dan hanya ada sorot lampu dari mobil saya, jujur saja, tegang juga. Sehingga saya banyak berdoa dan berhati - hati.

Saat sudah dekat malang, saya mulai mengantuk, akhirnya saya membuka kaca mobil agar tidak mengantuk. Pas 2 jam perjalanan kami sudah memasuki daerah kota Malang, teman - teman pun terbangun, saya harus mengantarkan mereka satu - satu dulu. Setelah selesai, saya lanjut perjalanan ke Malang ditemani rasa ngantuk. Padahal jalanan sepi, jadi saya menyetir dengan kecepatan tinggi dengan konsentrasi yang sudah menurun, untung saja tidak kenapa - napa. Badan saya sudah lelah, ngantuk, pegal - pegal, hmm, perjalanan yang tidak diharapkan. Saya sampai di kosan jam setengah 1 malam. Saya langsung tidur waktu itu. Saat terbangun, saya tidak sadar bagaimana saya menyetir ke Surabaya kemarin, karena rasa kantuk itu. Perjalanan yang sangat menantang, baru pertama kali saya melakukan wisata yang bertaruh raga seperti ini. Oke, sekian posting dari saya, nantikan perjalanan - perjalanan saya selanjutnya, terakhir pesan saya, jangan pernah mengagumi keindahan negeri orang sebelum kau tau betapa negeri kita tercinta ini mempunyai keindahan yang luar biasa. Terima kasih, oya, Saat kalimat terakhir ini di publish, badan saya masih pegal - pegal,hehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

badge