30 September 2014

Padfone Mini: Zenfone 4 rasa Zenfone 5 dengan Dual Display



Era handphone sekarang sudah mulai memasuki yang namanya smartphone, sudah memakai open OS yang memungkinkan pengguna maupun developer untuk saling berbagi perangkat lunak mobile. 2 tahun yang lalu saya masih belum berpikiran kalau saat ini hampir semua orang, terutama remaja, akan menggunakan paket internet karena saat itu internet masih tergolong mahal. Nah, situasi ini membuat perusahaan teknologi yang awalnya tidak menjamah pasar smartphone menjadi tertarik untuk ikut bertarung di pasar smartphone ini. Salah satu yang menjadi petarung lumayan baru di pasar ini adalah Asus, yang di Indonesia terkenal dengan laptopnya. Sebenarnya dulu Asus sudah memiliki produk handphone, tetapi masih belum diberikan perhatian tersendiri oleh Asus, baru saat ini smartphone dari Asus mulai diperhatikan pemasarannya. Nah, yang terkenal dari smartphone Asus adalah Zenfone, tetapi ada satu produk lagi yang menurut saya sangat menarik, yaitu Padfone Mini.


Zenfone 4, 5, dan 6 merupakan smartphone sejenis yang mempunyai spesifikasi sangat berbeda sehingga calon pembeli pun dimudahkan untuk memilih smartphone yang diinginkan. Dari sisi kamera misalnya, untuk zenfone 4,5, dan 6 berturut - turut mempunyai resolusi 5,8, dan 13 megapixel. Layar juga demikian, berurutan mulai dari 4,5, dan 6 inchi. Nah, ada kelebihan ada juga kekurangan, menurut saya pribadi kekurangannya adalah untuk calon pembeli yang ingin layar tidak terlalu besar tetapi menginginkan spesifikasi yang lebih baik dari zenfone 4. Ternyata Asus menjawab kekurangan tersebut dengan juga merilis Padfone mini di waktu yang sama dengan zenfone. Spesifikasi dari Padfone mini tidak dimiliki oleh zenfone manapun sehingga pasti ada pangsa pasar tersendiri yang menyukai Padfone mini tersebut.



Padfone mini adalah tablet yang bisa dicopot menjadi smartphone, sehingga perangkat tabletnya hanya berfungsi sebagai layar saja. Layar tablet ini mempunyai lebar diagonal 7 inchi, tetapi saat perangkat handphone nya dicopot akan menjadi 4 inchi saja, persis dengan zenfone 4 bentuk smartphone nya. Nah, spesifikasi yang ditawarkan mirip dengan zenfone 5 dengan 8 megapixel kamera. Sehingga jika dalam kondisi smartphone maka handphone ini berbentuk zenfone 4 dan berspesifikasi zenfone 5. Dan ketika dimasukkan ke layar tablet maka menjadi bentuk lebih besar dari zenfone 6 dan berspesifikasi zenfone 5. Harga yang ditawarkan mirip dengan harga zenfone 6 yaitu 3 jutaan. Benar - benar menutup celah bukan?

more info: http://www.asus.com/id/Tablets_Mobile/PadFone_mini_PF400CG/Features/
Read more!

29 September 2014

Mie Akhirat: Melawan Pedasnya Ditengah Keramaian Bungkul


Posting kali ini akan membahas tentang kuliner yang ada di Surabaya. Posting kuliner yang ada disini terbagi atas 2 macam, ada wisata kuliner legendaris yaitu yang sudah terkenal sejak dulu, ada juga yang wisata kuliner terbaru yang terkenal di kalangan muda mudi kota tersebut. Nah, kali ini saya akan membahas tentang wisata kuliner yang jenis kedua, yaitu yang terbaru dan terkenal di kalangan anak muda. Kali ini saya mengunjungi mie akhirat yang ada di jalan Progo nomor 10 Surabaya, lebih mudahnya letaknya tepat di samping taman bungkul, lebih tepatnya lagi di seberang rawon kalkulator yang sudah terkenal itu. Berbeda dengan mie kober yang baru buka saat sore hari, mie akhirat ini sudah buka sejak siang hari pukul 10 sehingga bisa dikunjungi saat jam makan siang maupun saat jam makan malam.




Saat itu saya datang pukul 19.00 sehingga pengunjung lumayan ramai yang berkunjung ke mie akhirat ini. Saat masuk ternyata tempat duduk yang disediakan sangat banyak sehingga dapat menampung banyak pengunjung, kesan pertama yang bagus menurut saya. Setelah memarkirkan sepeda motor saya pun duduk di salah satu meja dan langsung melihat menu makanan yang tertempel di meja tersebut, ya menu makanan itu tidak bisa diambil karena sudah tertempel di meja. Saya memesan mie goreng api neraka dengan harga 15 ribu rupiah. Bedanya mie akhirat dengan mie setan adalah jika di mie setan berapapun level yang kamu minta harganya tetap seperti yang tertera di daftar menu, nah di mie akhirat setiap level yang kamu pilih ada penambahan harga yang berbeda - beda.



Saya sendiri membeli level 3 sehingga harganya bertambah 2 ribu menjadi 17 ribu rupiah. Mie akhirat tidak hanya menyediakan mie saja, tetapi juga ada nasi goreng, tahu crispy, sampai dim sum pun juga ada. Rasanya pun juga masih bisa dirasakan nikmatnya meskipun sangat pedas, berbeda dengan yang lain dimana yang terasa hanya pedasnya saja sudah tidak terasa enaknya. Oke, buat kamu yang kebetulan lagi di taman bungkul tidak ada salahnya buat mengunjungi tempat ini.
Read more!

18 September 2014

Tempe Penyet Mbak Noer: Aneka Penyetan Nikmat yang Buka Sampai Malam


Kuliah udah mulai, jadi isi posting blog ini beberapa bulan ke depan adalah seputar kuliner. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan kawasan jagir masih ramai dengan orang - orang yang makan di warung - warung sepanjang jalan kawasan jagir tersebut. Salah satu warung yang  menarik perhatian saya adalah tempe penyet Mbak Noer yang saat ini sudah "berubah wajah". Lokasi tempe penyet mbak noer ini ada di jalan Jagir Wonokromo nomor 160, Surabaya. Setahun yang lalu saya pernah ke tempat ini dan tempatnya sangat berbeda dengan yang ada sekarang. Dulu tempatnya kecil dan sempit, padahal pengunjungnya sangat ramai sejak sore saat warung baru buka, kondisi yang tidak imbang ini membuat konsumen tempe penyet mbak noer ini banyak makan di pinggir jalan.





Setahun kemudian situasi pun berubah. Saat ini warung mbak noer ini sangat luas dan dapat menampung banyak pengunjung, selain itu penyajiannya lebih tertata karena sudah ada kasirnya sendiri. Meskipun sudah besar tetap saja warung ini selalu penuh dengan pengunjung meskipun sudah larut malam. Sebenarnya tidak ada bedanya menu yang ada disini dengan yang ada di tempat lain, bedanya adalah sambal yang ada disini enak banget, mirip - mirip dengan sambal yang ada di mak yeye. Kalo bisa dibandingkan sebenarnya perbedaan kedua warung ini hanya di pilihan makanannya, jika di mak yeye kita tidak bisa memilih menu karena memang itu default menunya, di warung mbak noer ada banyak pilihan lauk seperti lele goreng, panggangan pe, ayam goreng, dan lain sebagainya. Saya sendiri memesan panggangan pe, tempe, dan telur dan ditebus dengan harga 12 ribu rupiah, cukup murah kan. Tidak ada salahnya untuk mencoba warung ini, bukanya sampai tengah malam kok.
Read more!

07 September 2014

Bebek Kayu Tangan: Spesial Bebek Bakar di Tempat Lawas


Liburan belum usai dan saya sudah di Surabaya untuk mengurus suatu event. Banyak waktu lowong yang ada membuat saya mempunyai banyak kesempatan untuk menikmati banyak makanan yang belum sempat saya kunjungi ketika saya liburan sudah berakhir alias udah kuliah lagi. Dari referensi teman saya, ada tempat yang menyediakan makanan bebek yang berbeda dari tempat lain, tempat ini menyediakan bebek bakar. Perut lapar dan keinginan mencoba tempat baru membuat saya mengunjungi tempat ini, namanya Bebek Kayu Tangan atau biasa disingkat BKT yang terletak di jalan Bratang Gede nomor 68 Surabaya. Dari arah semolowaru dan sampai di perempatan terminal Bratang, ambil saja jalan lurus sampai di jalan Bratang Gede dan tempatnya ada di sebelah kiri jalan. Tanda - tanda sudah dekat dengan tempat ini adalah banyaknya asap karena mereka membakar bebeknya di tepi jalan.







Saya datang kesini bersama 3 teman saya dan memesan bebek bakar karena inilah yang jarang ditemukan di tempat lain. Harga untuk satu porsi bebek bakar paha adalah 19 ribu dan bebek bakar dada 20 ribu rupiah, selisih harga dengan yang goreng hanya seribu rupiah saja. Nasi putih sendiri dipatok di harga 4 ribu rupiah dan es teh dengan harga 3 ribu rupiah, karena saya memesan paha jadi saya menghabiskan 26 ribu untuk menikmati makan malam kali ini. Saat makanan datang ternyata sambalnya diambil sendiri di meja kita, berbeda dengan bebek lain yang ada di Surabaya dimana sambalnya sudah langsung ditaruh di piring makanan kita. Saat mulai makan ternyata bebek ini sangat empuk, empuknya seperti makan ayam goreng dan bakar. Rasa manis yang ada di bebek berpadu dengan pedasnya sambal membuat bebek ini nikmat di lidah. Tidak lama saya sudah menghabiskan bebek ini dan melihat - lihat suasana warung. Kesan yang saya terima warung ini adalah tempat lama karena bangunan dan perabotan yang ada disini menggambarkan tempat lawas atau kuno.
Read more!

Gardu Pandang Tieng: Membuat Cover Kopi Dapet Minta di Atas Awan


Usai sudah pelaksanaan Dieng Culture Festival 2014. Kami memilih untuk pulang hari Senin pagi daripada Minggu sore seperti kebanyakan wisatawan lain karena kami tidak ingin terjebak macet dan perjalanan kami masih jauh ke Jawa Timur. Satu kesalahan yang tidak kami kira adalah keputusan kami untuk membeli oleh - oleh hari minggu malam, setelah melihat prosesi pencukuran rambut gembel kami kembali ke penginapan untuk beristirahat dan kembali keluar ke pusat keramaian saat malam hari. Tetapi kami kaget karena saat malam hari itu jalanan dieng menjadi sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan disini, hampir semua toko tutup, ternyata semua wisatawan sudah turun dan hanya tinggal segelintir orang saja disini. Saat kami berjalan mencari tempat oleh - oleh untung saja masih ada yang buka dan itupun sudah banyak barang yang habis, saya baru sadar bahwa Dieng tidak sebesar Batu dimana oleh - oleh bisa setiap saat ada. Saya sedikit kecewa juga karena tidak mendapatkan gantungan kunci yang seharusnya saya beli tadi siang saat masih buka semua, malam ini Dieng benar - benar sepi.






Nah, setelah membeli oleh - oleh kami pun kembali ke penginapan dan bersiap untuk pulang keesokan harinya. Saat perjalanan turun ke Wonosobo, kami dihibur dengan pemandangan sangat indah yang ada di sebelah kanan kiri jalan sampai akhirnya ada tempat khusus untuk melihat indahnya kawasan ini yang bernama gardu pandang Tieng. Gardu Pandang ini terletak pada ketinggian 1789 MDPL, jadi kami sudah turun 200 meter dari tempat kami tinggal di desa Dieng Kulon. Cuaca cerah pun mendukung pengambilan gambar saya dan teman - teman disini, dari sini terlihat kawasan pemukiman yang ada di bawah sana. Saya sedikit ingat pemandangan yang saya lihat saat di bukit sikunir, saat bertanya dengan penjaga warung yang ada disini ternyata bukit sikunir juga bisa dilihat dari tempat ini, tepatnya di belakang kami saat kami menghadap ke pemandangan alam.




Darisini terlihat jelas bahwa kami benar - benar di atas awan karena terlihat sekali ada awan di bawah sana. Kegiatan yang kami lakukan disini selain mengambil gambar adalah menikmati purwaceng hangat yang disediakan di warung atas awan ini. Gara - gara ada purwaceng, kami pun membuat cover dari kopi dapet minta yang dipoluperkan di acara ini talkshow net. Pemandangan indah serta minuman hangat ini menjadi tenaga kami untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya, see you Dieng.
Read more!

Dieng Culture Festival 2014: Prosesi Pencukuran Rambut Gembel di Candi Arjuna


Ini adalah hari kedua pelaksanaan Dieng Culture Festival 2014 sekaligus hari terakhir dari pagelaran ini. Rombongan kami sendiri baru bangun agak siang karena hari Sabtu sudah diforsir dengan banyak kegiatan, mulai dari mendaki bukit sikunir sampai menikmati jazz atas awan, kami sendiri hanya mengincar prosesi pencukuran rambut gembel hari ini jadi agak bersantai. Saat kami keluar ke jalanan ternyata masih ada pawai budaya yang juga mengarak anak rambut gembel sebelum prosesi di kawasan candi arjuna. Saya sendiri hanya sedikit menikmati pawai ini karena saat kami melihat sudah hampir rombongan terakhir dari pawai tersebut. Kami langsung pergi ke kawasan candi karena tidak ingin melewatkan kesempatan melihat event puncak ini, apalagi kami adalah pengunjung umum yang hanya bisa melihat di luar pagar yang sudah dipasang di sekitaran bangunan candi.




Saat kami datang ternyata sudah sangat ramai dengan pengunjung. Saya dan teman - teman langsung saja mencari tempat yang pas untuk menonton, meskipun belum ada aktivitas prosesi di kawasan candi tetapi spot untuk pengunjung umum sudah penuh dengan penonton. Cuaca yang panas menemani prosesi siang ini, bertolak belakang dengan tadi malam yang begitu dingin, tidak heran pipi bocah - bocah Dieng berwarna merah karena perbedaan cuaca yang sangat ekstrim ini. Saat prosesi masuk saya baru sadar bahwa kami ada di belakang tempat prosesi, jadi kami tidak bisa melihat jalannya prosesi, yang kami lihat hanyalah peserta yang sudah membeli tiket khusus sedang sibuk mencari spot bagus untuk mengambil gambar. Karena sangat panas teman - teman saya pun tidak kuat bertahan dan memilih untuk mundur dan duduk di tempat yang teduh, mungkin efek dari capek hari kemarin masih terasa.




Saya sendiri mencari tempat lain untuk melihat prosesi dan saya memilih di belakang panggung media. Setelah mencari sela - sela spot dan sedikit lompat - lompat sekolan, akhirnya saya bisa menemukan lokasi yang setidaknya bisa melihat prosesi. Anak - anak yang rambutnya dicukur ini diberi hak untuk meminta apa saja keinginannya dan pihak penyelenggara wajib untuk memberikan permintaannya tersebut. Ada yang meminta sepeda warna merah, handphone berkamera, dan ada yang doa. Saya tidak membayangkan bagaimana jika yang diprosesi adalah anak - anak kota besar, bisa pusing orang tua anak itu karena permintaannya pasti menghabiskan banyak uang.
Read more!

Dieng Culture Festival 2014: Menikmati Malam Minggu di Jazz Atas Awan


Sepertinya ini panggung paling epic yang pernah saya lihat. Salah satu acara paling ditunggu - tunggu oleh pengunjung DCF 2014 adalah jazz atas awan. Acara ini diselenggarakan setelah penerbangan lampion yang ada di lapangan utama. Jazz atas awan sendiri diadakan di lapangan belakang candi arjuna, sehingga jika melihat ke panggung, maka background dari panggung adalah candi Arjuna yang diterangi lampu warna - warni. Saya kira saat saya datang penonton masih belum begitu banyak karena di jadwal ini masih acara penerbangan lampion, tetapi dugaan saya salah. Saat saya datang penonton sudah penuh dan saya kebagian tempat di belakang - belakang yang jauh dari panggung. Kabut tebal pun menemani pagelaran jazz atas awan malam ini, sampai - sampai lampu sorot yang membelah langit pun hanya bisa sampai beberapa meter saja karena tebalnya kabut.







Sepertinya realisasi adanya jazz atas awan ini terinspirasi dari pegelaran jazz gunung yang lebih dulu ada di kawasan wisata gunung Bromo. Tetapi perbedaannya adalah jazz atas awan ini diselenggarakan umum sehingga penonton gratisan pun masih bisa untuk melihat, selain itu tidak ada artis besar di jazz atas awan, musisi yang datang adalah musisi indie yang datang dari berbagai kota. Dinginnya malam dan alunan musik jazz membuat kami terhanyut dalam suasana yang jarang didapat ini. Semakin malam kabut yang turun semakin sedikit, membuat panggung lebih terlihat jelas dari sebelumnya. Di tengah - tengah acara ternyata ada kejutan lain yang tidak kalah meriah, yaitu pesta kembang api. Pesta kembang api yang diselenggarakan ini tidak main - main, seperti pesta kembang api di kota besar saat perayaan pergantian tahun baru, sangat meriah. Pesta kembang api ini berlangsung selama beberapa menit dan membuat seluruh penonton mengelaurkan gadgetnya untuk merekam momen langka ini. Benar - benar epic bukan?
Read more!

Dieng Culture Festival 2014: Penerbangan Lampion di Ketinggian 2093 MDPL


Dieng Culture Festival merupakan event tahunan yang diadakan di dataran tinggi Dieng. Tahun 2014 ini diadakan selama 2 hari pada tanggal 30 dan 31 Agustus 2014. Sebenarnya ada tiket khusus untuk wisatawan yang ingin menikmati DCF ini dengan puas, tetapi saat saya ingin memesan tiketnya sudah habis, jadi saya menjadi wisatawan umum ketika event ini berlangsung. Saya sendiri mulai mengikuti acara ini saat malam minggu, karena saat pagi dan siang hari saya gunakan untuk mengunjungi tempat - tempat wisata yang ada di kawasan Dieng. Wisatawan yang mengikuti DCF sendiri baru banyak berdatangan di kawasan Dieng saat siang maupun sore hari, padahal saat pagi hari DCF sudah dimulai dengan acara jalan sehat, minum purwaceng masal, festival film, dan lain sebagainya. Nah, event pertama yang saya kunjungi kali ini adalah penerbangan lampion di kawasan candi Arjuna yang memang menjadi pusat seluruh acara DCF tahun ini.








Cuaca yang sangat dingin tidak menyurutkan antusiasme penduduk maupun wisatawan untuk mengikuti acara malam ini. Kabut tebal menemani event yang berlangsung malam ini, saking tebalnya tiap nafas saya pun diikuti dengan udara putih yang keluar dari hidung saya, sangat dingin memang. Kami pun langsung menuju ke lapangan besar yang menjadi pusat acara penerbangan lampion. Sepertinya tidak ada aba - aba dari panitia untuk menerbangkan lampion secara bersamaan, masing - masing orang yang memegang lampion menerbangkan lampion sesuka hati. Saya sendiri tidak memegang lampion karena kehabisan tiket khusus yang sudah saya ceritakan di paragraf pertama tadi, jadi disini saya hanya menjadi penonton saja. Tetapi keberuntungan pun datang, saat saya sedang asyik mengambil gambar dan menikmati penerbangan lampion ini, tiba - tiba ada lampion yang mengarah turun ke orang depan saya, langsung saja saya tolong dengan mengambil lampion yang sudah menyentuh badannya. Alhasil saya bisa memegang lampion itu dan menunggunya untuk bisa terbang kembali. Sembari menunggu lampion siap terbang, saya manfaatkan saja untuk foto dengan lampion tersebut, lumayan dapat gratisan.
Read more!
badge