30 April 2015

Rawon Sakinah: Kuliner Wajib yang Harus Dicoba di Pasuruan


Wah, baru kali ini saya post tentang kuliner yang ada di Pasuruan, paling deket dari rumah saya pernah post tentang kuliner yang ada di Pandaan, hehehe. Nah, dalam kepulangan saya kali ini bersama teman - teman untuk survei sebuah tugas, saya mengajak teman - teman untuk mencicipi kuliner yang ada di kota Pasuruan ini, saya sendiri tidak pernah jalan - jalan kuliner disini, hehehe. Setelah tanya ke ortu saya, akhirnya saya mengajak teman - teman ke Rawon Sakinah yang ada di jalan Kartini nomor 80 Pasuruan, daerah Bangilan dekat alun - alun. Kata ortu saya sih ini tempat yang paling terkenal disini, jadi orang - orang luar kota yang sedang mampir di Pasuruan biasanya mampir di Rawon Sakinah ini. Saya datang saat makan siang dan benar saja, pengunjung yang menikmati hidangan disini cukup banyak, sayangnya tempat parkir yang disediakan menjadi satu dengan jalan alias memakai bahu jalan sehingga tidak terbayangkan jika saat jam makan pengunjungnya sangat banyak, pasti akan memenuhi bahu jalan sampai depan bangunan lain.








Setelah duduk di meja pun kami didatangi oleh pelayan dan memesan makanan serta minuman. Kami semua kompak memesan rawon dengan lauk sate daging. Sebenarnya ada banyak pilihan lauk seperti empal, tetapi karena rawon dengan empal sudah jamak ditemui di Surabaya, maka kami memesan yang belum pernah kami rasakan. Minuman pun kita bisa memilih teh atau jeruk, seperti layaknya warung pada umumnya. Tidak lama menunggu rawon pun datang dan kami kaget dengan ukuran sate daging yang disertakan, besar banget. Rasa lapar yang menghinggapi membuat kami dengan cepat untuk melahap rawon ini. Sate daging yang dibakar dengan bumbu membuat rasanya gurih dan nikmat, cocok dengan rawon yang disajikan. Harga yang ditawarkan cukup murah, sekitar 25 ribu untuk rawon, terdengar mahal sih, tetapi dengan sate daging sebesar itu rasanya layak lah harga yang ditawarkan. Jika anda sedang kebetulan mampir di Pasuruan, tidak ada salahnya untuk kulineran disini.
Read more!

Tehhila Resto: Spesial Nasi Bora - Bora Mirip Pepper Lunch



Setelah puas berwisata di Teluk Hijau kami pun melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Perjalanan yang sangat jauh ini ditempuh dengan melalui Jember karena lebih dekat jika kita berangkat dari kawasan Teluk Hijau. Kami sampai di pusat kota Jember sekitar pukul 6 sore sehingga kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu karena kami masih 1 kali makan saja hari ini, yaitu saat di pantai Rajegwesi. Setelah bertanya kepada teman saya yang kuliah di Jember, dia menyarankan saya untuk mencoba makan di Tehhila Resto yang terletak di jalan Nusantara B1 Jember, lebih tepatnya ada di samping hotel Bintang Mulia. Arahnya adalah menuju ke GOR Kaliwates sehingga jika mencari di petunjuk jalan cari saja ke arah GOR Kaliwates atau hotel Bintang Mulia. Sebenarnya restoran ini sudah lama berdiri tetapi barusaja pindah tempat agar lebih nyaman dan luas. Jam bukanya sendiri harus kita perhatikan karena tempat ini buka pada pukul 11-15 lalu tutup pada jam 15-18 dan buka kembali pada pukul 18-22. Ciri - ciri lain yang ada disini adalah restoran ini dipenuhi kaca sehingga kita bisa melihat orang yang sedang ada di dalam restoran.







Rombongan kami memilik ruangan ber AC, kita juga bisa memilih ruangan yang non AC, tergantung keinginan. Tempat yang luas memungkinkan kami yang datang dengan jumlah ber 12 dapat tertampung. Harga yang ada disini lumayan mahal untuk ukuran daerah non metropolitan, misalnya saja nasi bora - bora yang saya pesan dapat ditebus dengan harga 30 ribuan. Makanan yang saya lihat paling murah adalah berbagai olahan mie dengan harga 20 ribuan. Minuman yang ditawarkan pun tidak kalah menarik, mulai dari yang sederhana sampai yang berisi berbagai macam topping. Tidak lama menunggu pesanan saya pun datang dan saya langsung kaget ternyata nasi bora - bora ini sangat mirip dengan pepperlunch, tentunya dengan harga yang lebih murah. Setelah saya campur dan saya coba, rasanya sangat nikmat, gurih yang ditawarkan tidak terlalu menonjol sehingga pas di lidah. Biasanya masyarakat yang datang kesini adalah rombongan keluarga, jarang saya temui pelanggannya adalah kaum muda - mudi. Menurut saya tempat ini akan menjadi sangat recommended untuk dicoba, terutama saat anda bersama keluarga dan sedang ada di Jember, hehehe.
Read more!

Teluk Hijau: Surga Tersembunyi di Ujung Timur Pulau Jawa


Tujuan terakhir kami setelah menginap di daerah pantai Pulau Merah adalah Teluk Hijau. Akhir selalu diharapkan menjadi yang paling menarik, bukan begitu? Maka dari itu pagi - pagi kami sudah bersemangat berangkat ke Teluk Hijau, tetapi hujan yang sejak petang mengguyur sedikit membuat kami pesimis dapat menikmati Teluk Hijau dengan sempurna. Tepat pukul 8 kami pun berangkat dari homestay diiringi dengan hujan yang lumayan deras mengguyur. Google maps yang saya buka sih menunjukkan bahwa jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menit lebih sedikit, tetapi saya sih berpikir bahwa akan menghabiskan waktu 1 jam, tetapi perkiraan saya salah karena perjalanan ditempuh dalam waktu hampir 2 jam. Mengapa bisa selama itu? karena jalan yang dilewati tidak semulus kulit AKB48, sangat terjal. Jalan terjal yang kami lewati saya taksir mempunyai panjang lebih dari 13 km, dari perkebunan PTPN sampai pantai Rajegwesi. Elf yang kami naiki tidak berhenti bergoyang mengocok penumpang yang ada di dalamnya, untungnya kami tidak sampai mabuk, hehehe.














Setelah sampai di pantai Rajegwesi kami pun menyempatkan untuk sarapan dulu sembari menunggu hujan yang belum juga reda. Setelah kami makan hujan pun reda dan kami menyewa kapal dengan tarif 35 ribu/orang. Perjalanan menggunakan kapal dapat dinikmati dengan adrenalin yang diuji karena ombak di tengah laut tidak setenang jika ada di pantai selatan. Setelah sekitar 15 menit di atas kapal sampailah kami di pantai Teluk Hijau, ternyata kami adalah rombongan pertama yang sampai disini. Kesempatan ini tidak kami sia - siakan dengan foto di tempat - tempat yang menawan dan tentunya bermain air laut, sayang banget kalo gak main air disini karena ombaknya yang tidak terlalu berbahaya, maklum tempat ini ada di teluk. Tenang saja jika barangmu ingin ditinggal, tinggalkan saja di dekat penjaga pantai yang selalu ada disini sejak pagi sampai jam 5 sore, kalau bisa izin dulu untuk menitipkan barang - barang. Pasir yang lembut membuat teman - teman saya tidak sabar untuk bermain pasir. Batuan yang membentuk relief - relief juga menambah keindahan tempat ini. Kenapa disebut Teluk Hijau? Karena warna dari lautnya benar - benar hijau, buktikan sendiri dengan datang kesini ya.
Read more!

Pulau Merah: Ada Emas Lho di Pantai Kuta nya Banyuwangi Ini


Perjalanan dari Baluran menuju ke pantai Pulau Merah harus ditempuh dalam waktu yang cukup lama, yaitu 3 jam karena kita pergi dari pantai utara ke pantai selatan. Saya berharap dapat melihat sunset saat tiba di Pulau Merah. Sepanjang perjalanan hujan turun dengan derasnya dan tidak ada jeda sehingga semakin lama harapan saya untuk melihat sunset itu juga semakin sirna. Jalan menuju ke pulau Merah ini adalah jalan yang paling bagus dibandingkan jalan menuju ke destinasi kami yang lain karena memang wisata disini sudah sangat komersial. Saat sampai memang hujan sudah reda tetapi tetap saja langit di atas kami mendung membuat tidak ada sedikitpun cahaya matahari yang tampak. Kami pun makan sore terlebih dahulu karena sudah sangat lapar, tetapi di tengah - tengah kami menikmati makan kami hujan deras pun mengguyur dan harapan untuk menikmati pantai ini semakin hilang saja. Setelah menunggu akhirnya hujan pun reda dan kami langsung menuju ke pantai. Hari yang sudah gelap membuat kami tidak berani untuk menjelajah pantai ini terlalu jauh, kami hanya berdiri di sekitar tempat parkir saja. Saat hari sudah mulai gelap kami pun mulai mencari penginapan disini dan kami menemukan sebuah rumah yang bisa dijadikan homestay.









Rumah ini berisi 3 kamar dan ada ruang tamu serta ruang tv yang bisa disewa dengan harga 700 ribu per malam, tentunya setelah melewati proses tawar menawar. Enaknya menyewa disini adalah tidak dibatasi berapapun jumlah orang yang menginap, selain itu adanya ruang tv serta ruang tamu menjadikan kami dapat berkumpul untuk sekedar menikmati kopi hangat yang disajikan oleh pemilik homestay. Bisnis homestay ini mirip dengan yang saya temui di Karimunjawa, jadi pemilik rumah tinggal di bagian belakang rumah yang tidak terlalu bagus, tetapi rumah bagian depannya diperbaiki sampai bagus untuk disewakan kepada wisatawan. Ada banyak homestay di daerah pulau merah ini, biasanya harga 1 kamar dengan fasilitas kamar mandi dan kipas angin dihargai 150 ribu per malam, jika ber AC maka harganya akan lebih mahal mencapai 250 ribu per malam. Hasil perbincangan saya dengan penduduk membuat saya tau bahwa di daerah sini ada kandungan emas dan sudah ada perusahaan asing yang berinvestasi, kenapa harus asing, hmm. Saat malam hari tiba hujan tidak turun sehingga kami bisa jalan - jalan ke warung yang ada di kawasan pantai pulau merah. Ada rombongan wisatawan yang bermalam di tenda dalam kawasan ini, boleh dicoba suatu saat nanti. Makan malam saya hanyalah sepiring mie plus telor ditambah dengan es dengan utuh dengan batoknya, suasana yang patut untuk dirindukan.
Read more!

29 April 2015

Savana Bekol: Eloknya Africa van Java di Baluran


Setelah beranjak dari pantai Bama, kami pun kembali ke padang rumput yang disebut Savana Bekol ini. Musim hujan memang kadang membuat rencana yang sudah dibuat di awal menjadi tidak sesuai. Rencana saya sih setelah dari pantai Bama kami dapat menikmati Savana Bekol ini dengan puas karena saat pagi hari hujan dan saat saya tiba cuaca menjadi semakin terik, perkiraan saya setelah dari pantai Bama cuaca semakin terik lagi, tetapi perkiraan saya salah, yang terjadi malah cuaca dari hujan ke terik, kembali ke hujan lagi, lebih deras malah. Setelah menunggu beberapa lama hujan pun mulai reda, kami yang awalnya menunggu di elf pun satu per satu keluar dari elf. Saya yang pertama kali keluar dan menuju ke tempat spot foto adalah korban pertama dari keganasan tanah disini. Setelah berjalan beberapa langkah ternyata tanah yang tidak tertanami rumput menempel di sepatu saya, menempelnya pun tidak main - main, sangat tinggi sehingga membuat berat langkah saya.







Sudah terlanjur terkena lumpur saya pun tetap saja mencari area yang bagus untuk foto, semakin lama saya berjalan semakin tinggi pula tanah yang menempel di bawah sepatu saya, bisa sampai 3 cm. Setelah menjadi sangat tinggi saya pun menyerah dan pergi ke kubangan air untuk membersihkan tanah di sepatu ini dulu. Beruntungnya kami semakin lama disini cuaca semakin membaik dan sedikit demi sedikit awan pun mulai cerah kembali. Setelah berkutat dengan tanah yang ajaib ini, saya dan teman - teman pun pergi ke tempat yang dekat dengan lokasi parkir karena disini ada pajangan yang berisi kerangka hewan - hewan yang telah mati. Tidak jauh dari pajangan ini ada pohon yang cukup menarik untuk dijadikan obyek foto. Savana Bekol ini tidak hanya berisi rumput dan tanaman saja tetapi kita juga bisa melihat berbagai macam hewan yang hidup bebas disini, diantaranya banteng, rusa, rubah, monyet, dan ayam lucu yang saya tidak tahu jenisnya. Sebenarnya ada menara tinggi yang bisa melihat seluruh area dari savana ini, tetapi kayaknya harus izin sehingga saya pun tidak mencoba untuk naik kesana.
Read more!

Pantai Bama: Sejenak Terdengar Deburan Ombak Kecil dalam Baluran



Semester 6 sudah memasuki minggu - minggu akhir yang juga menandakan bahwa tugas - tugas yang super duper banyak dan susah mulai berdatangan. Nah, di tengah padatnya jadwal nugas ini saya dan teman - teman ISE menyempatkan untuk sejenak menikmati indahnya negara kita tercinta ini dengan mengunjungi daerah paling timur di Jawa Timur, yaitu Banyuwangi. Tujuan pertama yang kami datangi adalah Taman Nasional Baluran di Situbondo.  Kami sampai sekitar pukul 6 pagi setelah berangkat dari surabaya tepat tengah malam. Hujan gerimis menyambut kami saat masuk di pintu gerbang, setelah laporan ke pos jaga kami pun melanjutkan perjalanan. Jarak yang lumayan jauh ke pantai Bama dan harus dilewati dengan jalan tidak beraspal alias berbatu membuat waktu perjalanan ke dalam harus ditempuh dalam waktu yang cukup lama. Setelah hampir satu jam perjalanan sampailah kita di padang rumput yang menjadi daya tarik utama di Baluran. Cerita setengah menyebalkan dan lucu terjadi setelah ini.










Kami adalah rombongan pertama yang datang dan ada tempat parkir di dekat padang rumput sehingga saya beranggapan bahwa kendaraan harus parkir disini. Setelah tanya tentang letak pantai Bama kepada penjaga disana maka jalan kaki lah kami ke pantai Bama. Ternyata jarak nya lumayan jauh sehingga membuat kami kecapekan, tetapi karena masih pagi saya pun masih semangat saja untuk jalan terus. Tetapi hal zonk terjadi saat saya telah sampai terlebih dahulu di pantai Bama dan disana ada tempat parkir kendaraan yang sangat luas, menandakan bahwa kendaraan boleh sampai disini. Teman - teman yang sudah capai karena berjalan kaki pun tidak sanggup jika harus berjalan kaki lagi untuk kembali, akhirnya saya dan teman saya meminjam motor petugas yang ada disana untuk memanggil kendaraan kami untuk masuk ke dalam, maklum saja disini tidak ada sinyal sama sekali. Pantai nya sangat tenang dan cocok untuk bermain air sebenarnya, tetapi karena tujuan kami kesini adalah untuk melihat padang rumputnya maka hanya sebentar saja kami disini sembari sarapan dan kembali ke padang rumput. Tiket masuk ke dalam Baluran ini sebesar 15 ribu rupiah.
Read more!
badge