08 April 2015

Uang Elektronik: Mencoba Bertransaksi Gaya Hidup Modern



Halo readers, Setahun belakangan ini saya lebih sering posting tentang wisata dan kuliner nih, jadi jarang posting tentang hal - hal lain yang saya pikirkan atau saya alami, hehehe. Nah, minggu ini adalah minggu UTS di jurusan saya sehingga setiap malam saya menghabiskan sebagian waktu saya untuk membuat notes ujian esok hari. Besok adalah ujian paling susah dan saya sedang ingin menulis tentang hal lain sehingga dibukalah browser dan log in ke dalam blogger lalu mulailah saya mengetikkan ide - ide yang ada dalam pikiran saya. Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya akhir - akhir ini ketika mencoba menggunakan produk yang lumayan lama sudah diedarkan oleh bank - bank besar di Indonesia tetapi penggunaannya masih sangat minim sehingga saya anggap masih tergolong baru. Produk ini adalah uang elektronik yang saat ini dikuasai oleh 2 bank terbesar di Indonesia, yaitu BCA dengan BCA Flazz nya dan Bank Mandiri dengan Mandiri E-Money nya. Saya membeli dua - duanya dan ingin membandingkan penggunaannya dalam kehidupan sehari - hari.

Hal pertama yang saya coba adalah menggunakannya bertransaksi di beberapa ritel besar yang memang sudah menyediakan fasilitas pembayaran menggunakan BCA Flazz. Ekspektasi saya adalah seperti ini:

1. Mbak - mbak kasir melakukan scanning terhadap produk yang saya beli
2. Setelah semua di scan kemudian mbak - mbak kasir akan meminta saya membayar
3. Saya akan mengeluarkan BCA Flazz saya dan menyerahkannya kepada mbak - mbak kasir
4. Mbak - mbak kasir akan menempelkannya ke alat pembaca BCA Flazz
5. Uang akan masuk ke bank dan otomatis datanya masuk ke sistem sehingga struk belanja langsung dapat di print.

Saya berekspektasi seperti itu karena tagline - tagline dari uang elektronik ini selalu membuat saya berasumsi bahwa transaksi akan berjalan dengan lebih cepat. Nah, saat saya coba ternyata ekspektasi saya salah besar, kenyataan yang terjadi adalah:
1. Mbak - mbak kasir melakukan scanning terhadap produk yang saya beli
2. Setelah semua di scan kemudian mbak - mbak kasir akan meminta saya membayar

3. Saya akan mengeluarkan BCA Flazz saya dan menyerahkannya kepada mbak - mbak kasir
4. Mbak - mbak kasir akan memasukkan kode BCA Flazz saya ke dalam sistem
5. Mbak - mbak kasir menekan - nekan alat EDC yang biasanya digunakan untuk pembayaran menggunakan kartu debit/kredit. Dia akan memilih menu untuk membayar menggunakan BCA Flazz
6. Mbak - mbak kasir memasukkan nominal belanja saya ke alat EDC itu
7. Alat pembaca BCA Flazz akan meminta untuk ditempelkan kartu BCA Flazz
8. Mbak - mbak kasir akan menempelkan kartu BCA Flazz di alat pembaca tersebut
9. Saat transaksi berhasil alat EDC akan mengeluarkan struk bukti transaksi
10. Mbak - mbak kasir akan memasukkan nomor transaksi itu ke dalam sistem
11. Struk belanja akan diprint

Setelah transaksi selesai saya pun jalan ke tempat parkir dan mulai berpikir bahwa jika menggunakan uang elektronik transaksi akan berjalan dengan lebih lambat, bukan cepat seperti tagline yang saya dengar. Nah, setelah itu saya mencoba menggunakan BCA Flazz tersebut untuk membayar parkir di salah satu mall yang perusahaan pengelola parkirnya sudah bekerja sama dengan BCA. Hasilnya adalah meskipun tidak secepat yang saya bayangkan tetapi memang lebih cepat daripada membayar menggunakan uang yang menyebabkan kembalian. Setelah itu saya juga mencoba menggunakan  uang elektronik untuk membayar tol, saat mencoba tol Surabaya-Gresik saya mencoba BCA Flazz dan saat menggunakan tol Waru-Porong saya mencoba Mandiri E-Money. Hasilnya adalah sesuai dengan ekspektasi saya, transaksi berjalan dengan cepat dan tidak merepotkan karena petugas jaga hanya tinggal menempelkan saja ke alat pembaca dan kita bisa langsung jalan. Hal ini dikarenakan tarif parkir dan tarif tol adalah tetap, tidak ada perbedaan sehingga alat baca diatur untuk memotong jumlah uang yang sama.

Kesimpulan yang saya dapat adalah untuk saat ini uang elektronik sangat berguna untuk transaksi dengan tarif tetap seperti jalan tol, tempat parkir, atau bahkan seperti yang sudah ada di kota - kota besar yaitu kendaraan busway nya seperti Trans Jakarta di Jakarta, KRL di Jakarta juga sudah bisa menggunakan uang elektronik dari bank - bank yang sudah memiliki produk tersebut. Tetapi penggunaannya di tempat dengan jumlah transaksi bervariasi seperti restoran dan supermarket, saya rasa uang elektronik masih belum mampu membuat transaksi lebih cepat karena sistem dari retail - retail tersebut mengharuskan memasukkan banyak kode ID agar tidak terjadi kesalahan dan mudah untuk dilacak jika sudah terjadi kesalahan pada suatu saat. Mungkin jika sistem sudah diperbarui dan transaksi bisa secepat yang saya bayangkan maka pertumbuhan uang elektronik ini akan sangat pesat dan menguntungkan bagi negara karena uang yang beredar di masyarakat semakin sedikit.

2 komentar:

  1. Jadi sekarang cewek ga bakal lihat dompet tebal... tapi jenis kartu yang dibawa... (mungkin) haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha, paling membuat ngiler sih kartu kredit, untung saya tidak memilikinya.

      Hapus

badge