01 Januari 2016

Desa Sade: Memasuki Lorong Waktu Suku Sasak


Liburan akhir tahun 2015 ini saya kembali ke sebuah pulau yang menjadi destinasi wisata alternatif karena pulau Bali sudah sangat penuh, Lombok. Kunjungan saya sebelumnya kesini dibatasi oleh waktu yang sangat singkat sehingga saya tidak sempat kemana - mana waktu itu. Nah, pada kesempatan kali ini waktu yang diberikan lebih lama sehingga bisa menikmati tempat - tempat yang wajib dikunjungi bagi wisatawan yang datang ke pulau ini. Tujuan pertama saya adalah Desa Sade karena letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Desa Sade adalah desa wisata yang berisi kehidupan asli masyarakat suku sasak yang masih terjaga hingga saat ini. Kita akan diajak berkeliling menyusuri perkampungan yang rumah - rumahnya sangat tradisional, bahkan untuk membersihkan lantai yang bukan keramik ini, mereka masih menggunakan adonan campuran kotoran kerbau agar lantainya bersih, amazing. Desa Sade merupakan desa yang memang daridulu ditinggali oleh suku Sasak, bahkan meskipun di daerah sekitarnya sudah penuh dengan kehidupan modern mereka tetap bertahan dengan kehidupan sederhana mereka, salut.














Hal yang membuat saya percaya mereka masih tetap bertahan dengan kehidupan tradisional mereka adalah mereka tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, bahkan setelah ribuan wisatawan pernah datang kesini tetap saja mereka tidak bisa bicara memakai bahasa Indonesia, adapun yang bisa adalah mereka yang berjualan cendera mata. Jika datang rombongan, biasanya akan ditemani oleh seorang pemandu yang akan menceritakan sejarah dari desa Sade ini. Sepanjang perjalanan menyusuri perkampungan yang jalannya sempit ini, hampir setiap rumah berjualan berbagai macam cendera mata mulai dari kain tenun, gantungan kunci, kaos, hingga makanan dan minuman pun ada. Saat melihat ke dalam rumah mereka tidak ada peralatan listrik yang menghiasi, semua sangat sederhana. Selain berjalan - jalan dan membeli souvenir, pengunjung juga bisa mencoba menenun kain di beberapa toko yang memang ada peragaan orang menenun. Saat menjelaskan sebuah bangunan penyimpan padi, pemandu-nya bilang bahwa sampai saat ini mereka masih memanfaatkan bangunan tersebut untuk menyimpan padi dan menjadi konsumsi mereka sendiri. Menurut saya pribadi adanya desa wisata seperti ini merupakan perpaduan yang pas antara pelestarian budaya dan peningkatan wisatawan karena yang dijual adalah hasil karya penduduk dan meningkatkan taraf ekonomi setempat. Semoga saja jika semakin ramai tidak semakin membuat desa Sade kotor ya, jaga alam sebaik mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

badge