02 Agustus 2016

Masjid Tiban: Bikin Pengunjung Penasaran dan Mengangkat Perekonomian Warga Sekitar


Malang selatan tidak hanya memiliki wisata pantai saja, ada sebuah tempat yang sebenarnya bukan tempat wisata tapi saat saya datang kesana sudah persis tempat wisata, jadi ya anggap saja tempat wisata. Namanya adalah Masjid Tiban yang terletak di desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sebenarnya ini bukan masjid tetapi pesantren, tetapi karena nama umumnya sudah terlanjur masjid jadi ya keterusan deh. Jika kamu berangkat dari Malang maka ikutilah jalan menuju ke Turen, nah jika pakai google maps maka kita tidak perlu melewati pusat keramaian Turen, jadi sebelum sampai di pusat keramaian turen yang belok ke kanan, kamu lurus aja mengikuti google maps (akhirnya google maps tidak zonk dalam kasus ini). Tempat parkir umum ada di bagian depan gang masuk, sebenarnya bisa sih parkir di dalem kompleks pesantren tapi sepanjang jalan di dalam gang yng hanya cukup dilewati 1 mobil itu berjejer pedagang dan para pembeli sehingga pengunjung luar kota pasti parkir di depan gang. Dari depan gang sudah terlihat bangunan pesantren yang sangat megah, tidak heran menjadi heboh karena ada di dalam sebuah gang dan terletak di sebuah desa yang jauh dari keramaian, sepertinya ini bangunan tertinggi di Malang selatan, hehehe.












Saat masuk kita akan disambut dengan nuansa biru dari ukiran - ukiran khas timur tengah yang meliputi seluruh dinding pesantren. Bangunan pesantren ini terdiri dari 10 lantai dan pintunya banyak banget, makanya punya julukan lain pesantren seribu pintu. Saya memulai perjalanan dari lorong bawah sangat artistik, penuh ukiran. Setelah itu saya mulai menjelajahi lantai - lantai atas dari bangunan pesantren ini. Hal yang menarik adalah jalan naik dan turun saya berbeda dengan tidak sengaja karena emang kebingungan saat mencari jalan, bener - bener banyak pintu dan bisa bikin tersesat, udah mengalahkan taman sesat lah pokoknya. Jalan naik saya melewati bangunan yang belum jadi, ada tangga ekstrim juga. Berbeda dengan jalan turun yang sudah berlantai dan melewati sebuah minimarket dan pusat oleh - oleh, ada ATM Bank Mandiri juga, wow. Bangunan dari pesantren ini emang terdiri dari lorong - lorong kecil dan tidak simetris sehingga ya bikin bingung itu tadi, petunjuk arah pun tidak jelas jadi banyak yang salah jalan. Lantai - lantai yang dimaksud sebenarnya tidak terdiri dari full bangunan, misalnya lantai 10 ya hanya teras kecil di salah satu tiang pesantren yang merupakan ruang terbuka, di lantai 6 pun kita juga bisa ke bagian ruang terbuka dan bisa melihat lantai 10 di seberang. Saya sempat salah jalan juga waktu masuk lorong hingga masuk ke kamar - kamar yang ada tempat wudhu tapi gelap banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

badge