30 Juni 2017

Venezia: Kota Terapung yang Terbuat Menggunakan Cinta


Hari ketiga saya jalan - jalan di benua biru tetap di negara Italia tetapi berpindah kota lagi. Kali ini saya mengunjungi kota yang sangat terkenal di dunia, namanya Venezia. Jarak dari kota Pisa ke Venezia cukup jauh, memakan waktu hingga 4-5 jam perjalanan. Kami sampai saat sore hari tetapi berhubung ini di Eropa jadi masih aman meskipun sore hari karena masih terang benderang seperti siang hari. Ternyata oh ternyata untuk dapat mencapai kota ini kita harus menggunakan transportasi air dari Venezia daratan, ada 2 pilihan yaitu menggunakan transportasi umum (kapal yang lebih besar) atau menggunakan kendaraan sewa pribadi yang pasti lebih mahal. Perjalanan dari pelabuhan ke Venezia memakan waktu kurang lebih 15 menit melewati hilir sungai yang sangat luas dan ombaknya sangat terasa. Setelah sampai di dermaga Venezia, kami pun langsung turun dan ternyata suasananya ramai sekali. Tidak ada kendaraan sama sekali di Venezia jadi seluruh orang disini harus berjalan kaki, mirip dengan yang ada di gili trawangan tapi dengan suasana perkotaan tempo dulu khas negara - negara eropa.











Sebaiknya sebelum berkunjung ke Venezia, browsing dulu spot - spot mana yang bagus untuk foto karena Venezia sangat luas dan harus langsung mencari spot tersebut jika ingin berfoto, awalnya saya kira Venezia tidak seluas dan seramai ini. Hal wajib yang harus dilakukan di Venezia adalah naik gondola (semacam perahu kecil) mengelilingi kanal - kanal yang mengitari Venezia. Venezia terkenal juga sebagai kota air karena memang seperti tenggelam. Harga naik kanal per kapal adalah 150 Euro dan berisi maksimal 6 orang. Jika ingin naik gondola tetapi dengan iringan nyanyian secara langsung bisa menambah 100 Euro. Meskipun disini banyak penjual souvenir tetapi saya sarankan membeli souvenirnya di daerah pelabuhan Tronchetto (pelabuhan untuk keberangkatan kapal menuju Venezia) karena harga souvenir di Tronchetto jauh lebih murah. Sebagai daerah wisata kelas dunia, Venezia juga dipenuhi dengan merek - merek terkenal di dunia. Venezia juga dipenuhi hotel berbintang yang memiliki tempat masuk yang unik, yaitu harus menggunakan perahu, gak mbayangin kalau bawa koper berat dan harus naik gondola yang bisa aja terbalik sewaktu - waktu. Bangunan yang ada di layaknya bangunan yang ada kawasan jalan kaki saat saya mengunjungi Roma dua hari yang lalu.
Read more!

29 Juni 2017

Pisa: Kota Kecil yang Memiliki Salah Satu Keajaiban Dunia


Hari kedua perjalanan saya di negara Italia berpindah kota dari Roma menuju kota kecil yang bernama Pisa. Meskipun Pisa adalah kota kecil tapi nama kota ini sudah terkenal seantero dunia, bahkan anak SD pun juga bakal tahu apa ketika kita menyebutkan nama Pisa. Perjalanan dari Roma menuju kota Pisa ditempuh dalam waktu 5 jam, udah seperti perjalanan Surabaya ke Banyuwangi ya. Perjalanan kami menggunakan bus seperti layaknya paket wisata dalam negeri di Indonesia karena memang bus yang paling fleksibel. Di tengah perjalanan menuju Pisa kami diajak mampir ke sebuah tempat kerajinan kulit tetapi saya tidak mengabadikannya karena ya di Indonesia juga ada kalau kerajinan kulit. Jarak yang ditempuh sebenarnya lebih jauh daripada jarak Surabaya ke Banyuwangi tetapi karena jalannya sepi dan menggunakan tol secara penuh makanya bisa ditempuh dalam waktu 5 jam. Kalau kata tour leader saya kota kecil bernama pisa ini tidak akan terkenal kalau saja menaranya tidak miring, jadi ini insiden yang membawa keberuntungan. 









Memasuki kota Pisa memang terasa sekali kalau kota ini sangat kecil, menurut informasi tour leader penduduknya hanyalah 300 ribu jiwa saja, seperti penduduk kota Pasuruan. Bus harus parkir di lokasi yang telah disediakan dan tidak bisa memasuki kawasan yang dekat dengan menara Pisa, mirip dengan yang ada di daerah Kuta bali, bus tidak boleh mendekati daerah pantai Kuta. Ada 2 pilihan dari tempat parkir umum bus ke menara Pisa, bisa berjalanan kaki dan bisa menggunakan bus umum yang harganya per orang sebesar 1 Euro. Saat berangkat kami memutuskan untuk menggunakan bus karena mengejar waktu juga dan takut hujan turun kembali. Saat memasuki area masuk kawasan menara Pisa ternyata tidak berbeda jauh dengan kondisi tempat wisata yang ada di Indonesia, jadi banyak sekali penjual souvenir yang berasal dari daerah Afrika. Barang yang ditawarkan dan harga yang ditawarkan cukup seragam sehingga bebas beli di penjual yang mana. Mereka juga bisa bahasa Indonesia yang umum digunakan untuk jual beli seperti "harga murah", "ayo beli sini", dan lain sebagainya. Ternyata kawasan menara Pisa ini ada di dalam benteng dan ada beberapa bangunan di dalamnya, kawasannya sangat luas dan kita bisa naik ke atas menara Pisa dengan membayar tiket masuk.
Read more!

28 Juni 2017

City Tour Roma: Mengunjungi Colosseum Hingga Lorong - Lorong Ibukota


Setelah mengunjungi Vatikan, tujuan selanjutnya adalah melihat icon yang sangat terkenal di Roma yaitu Colosseum. Colosseum merupakan area bertanding jaman dulu untuk banyak pertandingan, mulai dari antar hewan, antar manusia, hingga manusia dan hewan (Dulu saya ngiranya pertandingan antar manusia aja). Nah jejak - jejak peradaban lama ini masih kokoh berdiri di tengah kota Roma. Harap hati - hati saat di area Colosseum karena wisatawan akan ditawarin untuk foto bersama orang yang memakai foto gladiator, menurut informasi dari guide mereka akan meminta bayaran yang jumlahnya lumayan banyak hanya untuk sekedar foto bersama. Colosseum ini bukan wisata khusus seperti vatikan yang ada parkiran khususnya sehingga bus parkir di pinggir jalan dan kita langsung berada di halaman tempat ini. Selain bangunan Colosseum yang terkenal itu, di halamannya terdapat miniatur simpang lima gumul yang bernama Arco di Castantino. Kami tidak diberikan waktu lama disini karena masih akan diajak untuk berkeliling area yang lain.











Setelah naik ke bus kami diajak berkeliling area tengah kota Roma yang emang keren banget. Roma mempertahankan kejadulannya untuk menunjukkan bahwa kota ini sudah sangat tua. Jangan harap menemui bangunan - bangunan megah seperti yang ada di Jakarta, tidak ada sama sekali. Wisatawan akan disuguhkan pemandangan klasik dan patung - patung kelas dunia di sepanjang jalan, bangunan - bangunannya pun juga seperti itu. Satu hal yang menarik adalah disini sangat banyak tembok yang terkena vandalisme, udah jadul dan terkena vandalisme pula, jadi terlihat seperti agak seram juga berasa lagi di daerah gengster. Memang banyak juga area yang berbahaya bagi pendatang disini karena penjahatnya juga banyak, jadi wisatakan juga harus lebih hati - hati. Setelah itu kami diajak jalan - jalan di kawasan perbelanjaan yang mengharuskan pengunjungnya berjalan kaki, dan saya langsung teringat film - film yang mengambil lokasi syuting di eropa, persis banget, apalagi ada suara ambulans khas negara - negara disini, kan banyak tuh di film - film. Bangunan - bangunan selama berjalan kaki juga sangat unik, bertingkat tinggi dan dipenuhi jendela - jendela jaman dahulu, bagus banget buat foto. Matahari di negara ini akan terbenam jam 9 malam saat musim panas jadi jangan khawatir takut kemalaman saat berjalan - jalan karena akan tetap terang benderang hingga malam. Selamat menikmati kota Roma.
Read more!

Vatikan: Salah Satu Negara Terkecil di Dunia yang Sangat Penting


Liburan lebaran kali ini saya gunakan waktunya untuk berliburan bersama keluarga saya. Hari kedua lebaran atau 2 syawal saya dan keluarga saya berangkat ke benua Eropa untuk melaksanakan tour wisata yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Kota pertama yang kami kunjungi adalah Roma di negara Italia. Setelah mendarat di bandara, kami langsung menuju tempat wisata pertama yaitu Vatikan. Rasanya tak lengkap rasanya datang ke Roma tetapi tidak mampir di negara ini. Vatikan ini sangat unik karena statusnya adalah sebuah negara yang ada di dalam sebuah ibukota negara yang lebih besar. Meskipun Vatikan statusnya adalah sebuah negara tetapi tidak ada pemeriksanaan apa - apa saat memasuki kawasan ini, bebas aja turis untuk keluar masuk kawasan luar. Saya kira lingkar tengah Vatikan itu sangat besar seperti yang pernah saya lihat di media, ternyata saat didatangi sepertinya luas halamannya seperti Monas di Jakarta. Setelah puas foto - foto di area luar kami pun memutuskan untuk istirahat dulu di area pembelian oleh - oleh yang lebih teduh.













Setelah membeli beberapa souvenir, kami yang ingin melihat bagian dalam vatikan pun mengantri mulai dari sebelah kiri halaman untuk masuk di gerbang yang terletak di sebelah kanan, jadi antriannya sangat panjang, kira - kira kami antri hingga hampir 2 jam. Antrian ini disebakan oleh pemeriksaan yang sangat ketat untuk memasuki kawasan gereja, pemeriksaan seperti di bandara dan metal detector tidak boleh sama sekali bunyi, biasanya kan kalo masuk mall atau tempat umum pemeriksaan metal detector hanya untuk formalitas. Saran saya kalau berniat masuk ke gereja bawa payung dan air mineral karena bakal antri di halaman yang terbuka sehingga pasti kena matahari langsung, udah berasa upacara berjam - jam. Setelah berhasil masuk kami pun mengikuti rute perjalanan sesuai yang diarahkan oleh guide lokal kami. Kesan pertama dari bangunan ini bagus banget, udah terlihat jaman dulu peradabannya udah tinggi, seniman - seniman cerdas dunia banyak yang dari negara ini kan jadi tidak heran karya - karya nya luar biasa. Atap yang tinggi, ukiran - ukiran kelas dunia, bangunan yang luas, membuat gereja terbesar di dunia ini terlihat sangat menawan. Tour guide menceritakan masing - masing kisah yang ada di dalam gereja, jadi ada banyak spot seperti bilik pengakuan dosa, tempat makam, dan lain sebagainya. Keren banget dah.
Read more!

15 Juni 2017

Kedai Tanggal Tua: Restoran Baru dengan Menu Spesial Mie Bakar


Bulan Ramadhan identik dengan buka bersama. Nah, pada suatu kesempatan buka bersama teman - teman kantor, kami memutuskan untuk memilih salah satu restoran baru yang setiap hari ramai dikunjungi jadinya bikin penasaran. Nama dari restoran ini adalah Kedai Tanggal Tua yang terletak di jalan Raya Prapen nomor 23A Surabaya. Setiap saya lewat sini sebelumnya, selalu bikin macet karena tempat parkirnya sangat kecil sehingga harus parkir di pinggir jalan, udah gitu ramai banget pula. Agar tidak kehabisan tempat di hari sebelumnya kami reservasi dulu dan benar saja, semua meja yang ada disana sudah direservasi saat kami tiba, untung saja sudah reservasi. Tampak depan dari restoran ini seperti melihat film hollywood yang bercerita tentang cowboy yang akan masuk ke sebuah bar, naah bangunanya mirip dengan bar itu. Kedai Tanggal Tua ini menempati sebuah lahan yang agak kecil sehingga bangunannya pun juga kecil, tidak bisa menampung banyak orang. Saya juga baru tau kalau Kedai Tanggal Tua ini satu manajemen dengan Kedai Tua Baru, pantas namanya mirip.




















Interior dari restoran ini juga menyesuaikan dengan konsep tampak depan, jadi seperti bar - bar tua di film - film cowboy. Satu hal yang unik disini adalah ada musholla tetapi tidak ada tempat wudhu, sehingga yaa tinggal pilih mau wudhu di wastafel atau wudhu di toilet pakai shower, hehehe. Ada banyak pilihan makanan yang ada disini, tetapi menu utama yang ditawarkan adalah mie bakar. Mie bakar terdiri dari topping telur seharga 15.800, ikan seharga 18.800, dan ayam seharga 20.800. Selain itu menu utama lain yang ada disini adalah Tanggal Tua Share Pot, yaitu semacam shabu - shabu versi indonesia yang lebih murah. Variasi paling mahal yaitu yang berisi daging sapi, ayam, bakso, udang, kerang, ikan, tahu, mie, jagung, dan sayuran seharga 103.800 rupiah. Selain menu utama itu, juga ada menu - menu lain seperti makanan khas Indonesia seperti pecel dan lodeh, ada juga mie goreng dan mie kuah, ada juga camilan semacam tahu krispi atau sandwich. Minuman disini juga tidak kalah banyak, ada aneka ice blanded seperti red velved latte seharga 20.800, vanilla iced coffee latte seharga 22.800, dan lain sebagainya. Ada juga aneka olahan kopi, teh, softdrink, hingga beers. Nah, yang tidak kalah menarik disini juga ada dessert dengan harga mulai dari 20 ribuan. Rasa dari makanan disini enak sih, tapi porsinya lumayan sedikit jadi yaa jangan berharap kenyang, cukup menikmati suasana restorannya saja yang emang nyaman. Buat foto - foto juga bagus, sayangnya lampunya agak temaram jadi fotonya kurang maksimal.
Read more!
badge