27 Juni 2018

Nasi Kuning Abba Parman: Nasi Kuning Paling Enak di Sorong


Saya sudah tinggal di Sorong sekitar 6 bulan sejak awal tahun 2018. Selama saya tinggal disini makanan paling banyak ditemukan adalah nasi kuning. Kalau di rumah saya di Pasuruan dan Surabaya, nasi kuning hanya muncul saat acara - acara tertentu saja seperti syukuran, tetapi disini dihidangkan sebagai menu makanan. Saya kira nasi kuning hanya untuk sarapan seperti di Bandung, ternyata penjual nasi kuning disini ada mulai dari pagi hingga malam, dan uniknya ada yang buka hanya pagi dan ada yang buka hanya malam saja. Lebih dari 5 warung nasi kuning yang pernah saya coba disini, tetapi ada 1 warung yang rasanya emang lain daripada yang lain, lebih enak. Awal mula menemukan warung ini saat itu sedang cari sarapan naik motor dengan teman saya, saat sedang membeli nasi kuning di warung yang lain, kami melihat sekeliling dan tiba - tiba fokus ada sebuah warung nasi kuning yang antri pembeli, karena penasaran kami pun tidak jadi membeli di warung lain ini dan langsung menuju ke warung yang ramai pembeli tersebut.





Nama warung ini adalah nasi kuning Abba Parman, letaknya di dekat tugu Puncak Arfak, di jalan Sam Ratulangi. Warung ini berbentuk tenda kaki lima sehingga kalau tutup tidak terlihat jejaknya. Setahu saya bukanya jam 6.30 dan tutup jika habis, saya biasanya kehabisan jam 11 pagi, kalau ramai jam 9 atau 10 pagi juga sudah habis. Pilihan menu yang ada disini cukup beragam, jika ingin nasi kuning berlauk potongan ikan laut dan potongan ayam saja harganya 15 ribu, kalau pakai telur mata sapi/bundar harganya 18 ribu, kalau pakai daging sapi harganya 20 ribu, kalau kombinasi beberapa lauk harganya 25 ribu. Rasanya emang enak, malah enak banget menurut saya jika dibandingkan nasi kuning dari penjual yang lain. Saya sampai tiap minggu pasti setidaknya sekali mampir kesini untuk sarapan. Satu hal yang membuat keyakinan saya akan warung ini yang memang enak adalah saat itu ada pegawai salah satu resort mewah di Sorong yang memesan nasi kuning kotakan disini karena tamunya menginginkan makan nasi kuning, bayangkan sebuah resort mempercayakan makanannya ke warung kaki lima berarti kan memang enak rasanya. Kalau mampir di Sorong dan pingin makan nasi kuning, cobalah warung yang satu ini, tapi pagi ya.
Read more!

24 Juni 2018

Mamatua Villa: Homestay Rasa Resort di Raja Ampat


Usai sudah penulisan blog tentang wisata Raja Ampat keluarga saya. Nah, sebagai tulisan tambahan, saya ingin mengulas tentang penginapan kami yang menurut saya worth it. Nama tempat ini adalah Mamatua Villa yang terletak di Waisai, dekat dengan bandara Marinda. Perjalanan dari pelabuhan Waisai kesini naik mobil menempuh perjalanan sekitar 15-30 menit dengan jalan yang meliuk - liuk melewati perbukitan dan hutan lebat. Penginapan di Raja Ampat secara umum dibagi 2 yaitu resort dan homestay, tidak tahu juga bedanya apa secara pasti, yang pasti homestay lebih murah dari resort dan ini termasuk homestay. Kesan pertama saya terhadap homestay ini sangat takjub karena begitu tiba langsung ada pantai di depan kamar yang berbentuk bangunan tersendiri, apa ya namanya, bungalow sederhana kali ya, hehehe. Selain itu penginapan ini dilengkapi juga dengan meja kursi, ayunan, gubuk, dan tempat makan di tepi pantai untuk sekedar bersantai atau foto - foto. Ada juga dermaga anjungan yang lumayan panjang, jadi kalau sewa speedboat bisa berangkat langsung dari sini, gila sih udah punya pantai pribadi, punya dermaga pribadi pula.













Saya yang tidak pernah melihat fasilitas sekeren ini begitu takjub melihatnya. Saat papa saya tanya ke pengurus penginapan, katanya sewa disini dihitung per orang, per orang 600 ribu per malam, dapat 3 kali makan. Jadi meskipun 1 kamar diisi 4 orang ya bayarnya tetap 2,4 juta. Jangan kaget ya disini memang harga mahal - mahal, Sorong saja mahal apalagi Waisai yang lebih terpencil. Listrik disini hanya ada saat malam hari pukul 17 sampai pukul 7 pagi karena menggunakan genset, belum ada PLN disini. Hal menakjubkan lainnya adalah makanan yang enak - enak, apalagi makan malem tuh, buset dah ikannya gede - gede cuy, ada ikan cakalang, ikan mirip tuna, dan masih banyak lagi. Selain itu, masakan sayuran disini juga enak - enak, bumbunya top deh, saya kira kalau di pedalaman gini makanannya ala kadarnya. Wisata disini berbeda dengan jenis - jenis wisata yang lain, kalau ingin ke pusat keramaian pulau harus pesan taksi dulu menggunakan HP, tarifnya pun tidak murah untuk menyewa itu. Fasilitas harga segitu hanya dapat kipas angin saja, tv pun tidak ada, tetapi kamar mandi dalam dan air sudah lancar kok, sinyal pun ada sehingga nyaman banget menurut saya. Jangan lupa bawa soffel atau autan ya karena disini daerah yang masih ada nyamuk malaria, gede - gede lagi nyamuknya, daripada pulang - pulang kena malaria mending dicegah terlebih dahulu toh.
Read more!

Pos CI: Berenang Bersama Hiu di Raja Ampat


Saya sebenarnya tidak tahu pulau ini namanya apa, karena saat tiba disini yang tertulis di papan adalah Suaka Alam Perairan Waigeo Sebelah Barat, tetapi nama ini untuk seluruh kawasan yang ada di daerah Wayag sini, bukan khusus pulau ini. Kalau orang - orang menyebutnya pos lapor karena memang diperuntukkan untuk kapal melapor jika akan ke Wayag. Ada juga yang memberi nama pos konservasi hiu karena disini ada keunikan yang belum pernah saya temukan di tempat lain terkait dengan hiu, nanti akan saya ceritakan. Nah, ada blogger juga yang menuliskan ini adalah pos CI yaitu pos conservation international, mungkin ini nama yang mendekati resmi kali ya. Rombongan kami datang kesini untuk makan siang sebelum perjalanan jauh kembali ke Waisai. Saat bersandar di pantai kami langsung kaget karena banyak ikan - ikan yang berenang sangat dekat dengan bibir pantai, bahkan berenangnya di atas pasir pantai saking dekatnya, diantara ikan - ikan itu ada hiu - hiu kecil, saya sangat takjub.  








Bagaimana bisa hewan sekelas hiu renang di bibir pantai, bahkan air lautnya tidak sampai sedengkul saya. Awalnya kami hanya bermain di bibir pantai karena takut digigit hiu, tetapi ternyata hiu nya tidak menggigit manusia, malah bisa dijadikan obyek foto dengan menggunakan drone dan menghasilkan foto yang bagus banget, dikelilingin hiu gitu. Wisatawan bisa membeli potongan ikan ke anak - anak kecil disitu, kasih aja 50 ribu atau 100 ribu, gunanya untuk memancing hiu agar mendekat ke kita. Wisata disini semakin sepi maka semakin enak karena kalau banyak kapal hiu nya bakal lari ke tengah laut. Selain melihat ikan - ikan yang sangat dekat tersebut, pemandangan lautan dan pulau - pulau di seberang sana juga sangat indah, karena masih dalam satu kawasan dengan pulau - pulau di Wayag. Perbatasan antara laut bening, hijau, dan biru  dalam terlihat sangat jelas disini, keren banget. Dermaga yang dibangun disini sudah lumayan bagus ada papan mengapungnya juga. Tetapi tidak ada sinyal sama sekali di pulau ini. Bermain pasir putih bersama ikan - ikan kecil membuat lupa waktu, sangat nyaman dan tenang.
Read more!

Wayag: Puncak Keindahan Raja Ampat


Perjalanan hari selanjutnya adalah perjalanan puncak dari seluruh rangkaian wisata ini. Ibarat kata ini adalah "Gong" nya. Hari ini rombongan kami akan pengunjungi puncak Wayag, dimana pemandangan paling indah seantero Indonesia akan ditemukan disini. Tidak semua rombongan ikut karena mama saya, nenek saya, kakek saya, dan budhe saya tidak ikut karena alasan medan terjal yang harus dihadapi untuk mencapai puncak Wayag. Perjalanan ke Wayag ditempuh dengan speedboat bermesin lumayan besar selama 3 jam, kalau mesinnya tidak terlalu besar memakan waktu 4 jam. Sebelum memasuki kawasan Wayag harus melapor dulu ke desa di sebuah pulau tetapi biasanya sudah diurus oleh pemandu wisata. Peralatan yang wajib dipakai saat kesini adalah sarung tangan yang dibeli di toko pendaki gunung, kemudian celana jeans kalau bisa, dan sepatu ringan tetapi tidak tipis. Jangan lupa sarapan dan membawa minuman/makanan berenergi saat akan kesini. Mengapa begitu ribet yang harus dipersiapkan? karena tidak ada unsur buatan manusia disini.








Saya kira setidaknya masih ada dermaga untuk kapal sandar, ternyata kapal sandar di tepi pulau batu karang dan talinya dikaitkan ke batu karang disitu. Jadi untuk memijak ke pulaunya kita lompat dari kapal ke tebing karang, benar - benar langsung tebing berbatu tajam gitu, gila sih. Tidak ada jalur tanjakan yang dibuat untuk memandu wisatawan, jadi harus didampingi oleh pemandu wisata agar tidak tersesat, benar - benar alami. Batuannya sangat tajam tapi kuat sehingga sebenarnya lebih memudahkan untuk menanjak tapi lebih mudah untuk terluka, maka dari itu peralatan yang tadi saya bilang wajib dibawa/dipakai. Jalurnya hanya ada satu saja sehingga wisatawan naik dan turun bertemu di jalur yang sama, harus salipan gitu disini. Saya membayangkan kalau setelah hujan pasti tidak boleh sih wisata disini karena tidak ada pengaman sama sekali dan medannya curam. Setelah sampai rasanya terbayar sudah perjuangan sampai di atas sini, pemandangannya benar - benar bagus, seperti melihat wallpaper laptop/HP di depan mata langsung. 








Jangan lupa membawa tisu agar bisa foto - foto dengan wajah yang lebih manusiawi karena setelah menanjak pasti sudah berantakan penampilan kita. Gugusan pulau - pulau karang yang lonjong ke atas tidak ada kembarannya di dunia, ya hanya disini. Disini ada peraturan tidak tertulis bahwa jangan lama - lama disini karena bergantian dengan rombongan lain, sehingga kalau datang saat high season ya jangan harap berlama - lama menikmati keindahan puncak Wayag yang tiada tandingnya ini, ambil cuti saja saat hari kerja lebih worth it menurut saya. Wisata disini benar - benar membutuhkan fisik yang prima, setelah naik kapal minimal 3 jam, harus mendaki terjal paling cepat 30 menit, belum turunnya. Menurut saya meskipun 2 kali lebih mahal daripada wisata paket Piaynemo saja, tetapi ini harus dikunjungi karena ya keindahan sebenarnya ada disini.
Read more!

Pasir Timbul: Spot Foto yang Hanya Ada Saat Air Surut Saja di Raja Ampat


Perjalanan terakhir rombongan kami hari ini ditutup dengan mengunjungi pasir timbul, yaitu sebuah spot foto dimana sepertinya ada di banyak wisata kelautan di Indonesia, kalau tidak salah saat saya ke Belitung dan Karimun Jawa juga ada spot semacam ini, bedanya hanya di background. Lokasi Pasir Timbul ini tidak jauh dari Yenbuba dan juga tidak jauh dari Waisai, tidak sampai 30 menit sudah sampai di Waisai. Foto disini menurut saya paling bagus kalau sudah sepi, karena kalau rame tidak akan terlihat wah. Selain itu harus melihat banyak referensi foto dari media sosial, apalagi kalau bukan fotografer handal, karena dengan gaya pengambilan foto tertentu, foto jauh akan lebih bagus daripada yang biasa - biasa saja. Sehingga saran saya saat di penginapan unduh seluruh foto yang bagus - bagus di media sosial atau google untuk dijadikan referensi. Setelah turun saya dan rombongan pun jalan mendekati ke arah sebuah pulau yang menjadi trademark dari pasir timbul raja ampat ini.










Setelah foto menggunakan drone, saya dan saudara - saudara saya mencari spot - spot foto yang lain. Meskipun kawasan yang hanya muncul saat air laut surut, sinyal telkomsel bisa diakses disini. Tidak ada tiket masuk untuk datang kesini, bebas sesuka hati. Saat saya datang sore hari, air laut sedang surut tetapi masuk masa - masa akan pasang kembali, jadi bentang pasirnya lebih luas. Kawasan pasir timbul ini tidak ada ombak sama sekali sehingga wisatawan bisa aman untuk bermain air. Selain itu air disini seperti layaknya air laut di Raja Ampat, sangat bening sehingga terlihat pasir putih dan jika berjalan agak jauh ke arah laut akan terlihat karang - karang yang menghiasi bawah laut. Jika ingin merasakan sensasi lain wisata disini, bawalah makanan kesukaan ikan lalu taburkan di sekitar kapal maka ikan - ikan yang cantik akan segera berhamburan datang. Sebenarnya spot ini juga bisa untuk snorkling karena keindahan karangnya jelas terlihat tetapi karena waktu sudah sore dan sudah lumayan lelah maka rombongan kami memutuskan hanya foto - foto saja.
Read more!
badge